Minggu, 21 Agustus 2011

Legenda Para Dewa

"Konon, ada sebuah gunung yang amat angkuh, menjulang tinggi ke angkasa, hingga menembus ke Kayangan.
Oleh Semar, gunung itu ditendang dan pecah menjadi tiga bagian yaitu Gunung Semeru (2.947 meter dari permukaan laut/mdpl) di daerah Sumber, Malang, Jawa Timur dan merupakan puncaknya; Gunung Bromo (2.392 mdpl); dan Gunung Mahameru (3.676 mdpl)".
Begitulah asal muasal terbentuknya pegunungan Semeru, menurut kisah pewayangan.


Puncak Mahameru yang merupakan puncak tertinggi di Pulau Jawa ini ada di daerah Malang, Jawa Timur, tepatnya di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung yang satu ini memang banyak diminati pendaki, baik domestik maupun mancanegara. Terutama pada bulan Juni, Juli, Agustus, jumlah pendaki domestik bisa mencapai lebih dari 500 orang setiap bulannya. Sedangkan yang berasal dari mancanegara bisa mencapai 200 orang setiap bulannya. Bahkan, ketika menjelang hari Proklamasi, jumlahnya dapat meningkat 1000 lebih, karena para pendaki ingin menunjukan rasa nasionalismenya dengan melakukan upacara di puncak Mahameru

Keinginan kawan-kawan dari organisasi Perhimpunan Pendaki Gunung dan Petualang Alam Bebas (Paricakra) untuk menikmati keindahan alam dan tantangan baru terlaksana Juli lalu.

Berjumlah 7 orang, termasuk saya, kami berangkat menuju Malang menggunakan sepur (kereta api). Setibanya disana, setelah makan dan mengurus administrasi di Dephut setempat, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Ranu Pani dengan menggunakan jeep. Meski ongkosnya terbilang cukup mahal, Rp.  13.000,- per orang, tetapi akan segera terbayar oleh keindahan pemandangan alam Bromo, pematang sawah yang terhampar seperti permadani, dan ketegangan saat melintasi pinggir-pinggir jurang.

Kami naik jeep yang penuh sesak, sebab dinaiki 16 orang plus barang-barang, selama sekitar 2,5 jam. Berdesakan dengan manusia gunung saat matahari tepat berada diatas kepala, dan debu-debu berterbangan, membuat kami cepat lelah. Rintihan kesakitan karena terjepit, selalu terdengansepanjang perjalanan, disusul gelak tawa.
Pukul 15.00, kami tiba di Ranu Pani, langsung melakukan pendakian menuju Ranu Kumbolo. Sekitar pukul 19.00 kami sampai dan langsung mendirikan tenda.

Ranu Kumbolo
Ranu Kumbolo adalah sebuah danau yang membentang seluas 12 hektar, dikelilingi perbukitan yang hijau oleh rerumputan serta hutan cemara. Danau ini juga memiliki banyak ikan. Bila Anda membawa pancing, maka jangan ragu untuk mencobanya.

Dari sini, kami juga dapat menyaksikan sang surya saat menghiasi cakrawala, muncul diantara celah bukit, tepat ditengah celah danau. Namun, suhu disini amat dingin, meski kami telah memakai jaket rangkap. Tulang-tulang tetap bergoyang saat dihembus angin.


Oleh karena asyik menikmati suasana Ranu Kumbolo yang asri, sambil ditemani secangkir cokelat susu panas dan sepasang burung Belibis yang sedang mencari makan ditepi danau, membuat kami malas untuk beranjak. Baru sekitar pukul 12.00, kami melanjutkan pendakian.

Saat meninggalkan Ranu Kumbolo, langkah terasa berat. Bukan karena pemandangan, tetapi kami harus menaiki sebuah bukit yang cukup panjang dan tinggi. Untuk mencapai puncak, diperlukan waktu sekitar 15 menit. Tanjakan ini dikenal dengan nama Tanjakan Cinta, sebab bentuk jalurnya menyerupai love.


Ada kisah tentang Tanjakan Cinta ini. Bila kita mendakinya tanpa berhenti atau menoleh kebelakang, segala keinginan kita soal percintaan akan tercapai. Tetapi ini tidak mudah. Tidak mudah untuk tidak berhenti dan menoleh kebelakang, kecuali bila orang itu memiliki fisik kuat dan tidak ingin berfoto-foto.

Ketika tiba diatas bukit, rasa penat kita segera terobati saat melihat ke arah Ranu Kumbolo yang makin indah jika dipandang dari tempat yang lebih tinggi. Bila kita memandang kedepan, ada savana luas terbentang, dikelilingi hutan cemara gunung. Daerah itu dikenal dengan nama Oro-oro Ombo.

Kali Mati
Setelah 3 jam berjalan, kami tiba di pos Kali Mati. Disini, puncak Mahameru terlihat lebih dekat dan jelas, hingga guratan pasir yang menutupi bagian puncaknya. Di Kali Mati ada sebuah mata air yang bernama Kali/Sumber Mani, jaraknya sekitar 1 km dari pos. Sumber Mani merupakan air suci bagi masyarakat setempat, karena biasa dipakai untuk upacara ritual keagamaan.

Untuk melanjutkan pendakian ke Arcopodo, diperlukan waktu sekitar satu jam lagi. Namun, jalurnya makin curam dan berdebu, juga rawan longsor. Maka kami harus berhati-hati saat melintasi pinggir-pinggir jurang agar tidak terperosok.

Arcopodo
Arcopodo berada pada ketinggian 2.900 mdpl, merupakan batas vegetasi. Sehabis ini, tidak ada lagi tumbuhan yang hidup. Yang ada hanya pasir dan bebatuan saja, kecuali satu pohon cemoro yang disebut Cemoro Tunggal.


Dinamakan Arcopodo karena dulu ada dua buah arca, Ganesha dan Dewa Wisnu. Arca-arca itu kini telah hilang.

Pukul 03.00 subuh, kami melanjutkan pendakian. Dengan bantuan sinar senter, kami mendaki lereng Mahameru yang berpasir, dengan kecuraman medan sekitar 50-60 derajat. Berjalan di tepi jurang, membuat naluri bertahan hidup muncul dengan sendirinya, dengan memastikan tiap pijakan kaki dan cengkraman tangan, mampu menopang berat tubuh. Disini mental kami benar-benar diuji. Hanya mereka yang bermental kuat yang dapat menaklukkan Puncak Merapi.

Puncak Para Dewa
Pukul 07.00, kami tiba di puncak. "Puncak Para Dewa" kata grup musik Dewa 19, dalam lirik lagu Mahameru. Di puncak Mahameru, kami melihat keindahan Pulau Jawa yang cukup terkenal di mata internasional, dengan banyaknya paku-paku bumi yang ada di pulau ini. Di sebelah Timur ada dua paku bumi (pegunungan Hyang dan Gunung Raung) yang angkuh berdiri di tengah lautan awan putih yang kemudian dibatasi warna biru air laut.


Sebelah Barat, terlihat gumpalan awan putih, seolah menghubungkan puncak ini dengan puncak Gunung Arjuna, Welirang dan Gunung Kawi/Putri Tidur. Paku bumi yang ada di Jawa Tengah juga terlihat agak samar, tertutup gumpalan awan.

Bagian Selatan, Gunung Bromo dengan pesona kawahnya yang selalu mengeluarkan cahaya putih. Lebih ke Selatan terlihat deburan ombak Laut Selatan. Bagian Utara, bentangan samudera terlihat lebih dekat lagi, hingga tiap ombak yang menggulung ke daratan dapat diikuti iramanya oleh mata. Bila melihat deburan ombak, kami seperti ada di tepi pantai, bukan puncak gunung.


Ketika sedang menikmati Samudera Indonesia dari kejauhan, suara letupan terdengar, disusul semburan asap bercampur debu dan krikil melayang ke angkasa. Meski sempat kaget, tetapi ini merupakan momen yang ditunggu-tunggu untuk berpose dan membidikkan kamera. Semburan asap itu berasal dari kawah yang terletak sejajar pantai utara. Kadang kawah itu mengeluarkan gas beracun dan dapat membuat kita mati lemas. Biasanya, itu terjadi jika hari sudah siang, atau sekitar pukul 10.00 keatas.

Pukul 10.00, kami turun. Medan berpasir sepanjang 700 meter yang bila didaki membutuhkan waktu sekitar 4 jam, dengan sedikit berlari, kita sampai di Arcopodo dalam waktu 15 menit.
Sesampai di Arcopodo, setelah makan dan packing kami langsung turun menuju Ranu Kumbolo, bermalam disitu, dan pagi berikutnya meneruskan perjalanan.

Ranu Kumbolo memang tempat yang cocok untuk melepas penat, meski udara malam itu terasa lebih dingin dari kemarin. Dengan suhu mencapai -5 (minus lima), membuat tubuh kami selalu bergemeretak, meski sudah menggunakan kantung tidur dan jaket rangkap.


Pukul 09.00 hari berikutnya, kami beranjak dari Ranu Kumbolo. Terik matahari membuat serpihan-serpihan es dijalur mulai retak dan mencair, membuat jalur menjadi lebih licin.
Pukul 13.00, kami telah tiba di Ranu Pani, dan langsung menuju Jakarta.

(Bayu Hari Himawan, Mahasiswa IISIP Jakarta)
Sumber: KOMPAS, 10 Agustus 2001

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar